Showing posts with label sejarah bandung. Show all posts
Showing posts with label sejarah bandung. Show all posts

Friday, August 24, 2012

SITU AKSAN

Situ adalah bahasa Sunda dalam Bahasa Indonesia adalah Danau. Situ Aksan adalah peninggalan Danau Purba Bandung yang sering juga disebut sebagai situ hyang sebenarnya masih banyak Situ selain situ Aksan yang ditemukan di daerah Kota Bandung, tetapi akibat perubahan alam secara alamiah dan atau ketidak pedulian, kekurangtahuan serta kecerobohan pemerintah kota, sisa situ hyang lenyap ditelan pembangunan dan perluasan wilayah Kota Bandung. Sekarang tempat-tempat tersebut hampir semua hanya tinggal nama tanpa keberadaan airnya.

Banyak tempat baik di Kota Bandung maupun di daerah cekungan Bandung yang mengindikasikan asalnya merupakan tempat yang berair, sebagaimana yang dipaparkan oleh T.Bachtiar (“Mengenal Asal-muasal Nama Tempat di Cekungan Bandung”, Pikiran Rakyat, Agustus 2005) yaitu antara lain nama tempat yang menggunakan kata Situ, leuwi, Ranca, Legok, Empang, Bantar, Rawa, Dano, Muara, Parakan, Beber, Lengkong, Parung, Talaga, Teluk, Tanggeung, dan Bugel.

Salah satu sisa dan bukti sejarah keberadaan Situ Hyang yang paling monumental di Kota bandung adalah Situ Aksan (lahan situ milik Aksan) yang sampa pada awal 1970-an masih berfungsi sebagai salah satu lokasi rekreasi masyarakat Bandung.
Situ Aksan dengan pulau kecil ditengah-tengahnya yang dapat dicapai meggunaka perahu cukup terkenal pada tahun 1950-1960 sebagai tempat rekreasi. Tahun 1970-an luas Situ Aksan semakin mengecil akibat ditimbun oleh pembngunan hunian. Pada tahun 1980-1n Situ Aksan sudah merupakan kolam pemancingan dan kolam tempat itik dan angsa berenang, dan pda tahun 1990-an sudah tidak tersisa lagi, yang tinggal anya kubangan kecil saluran pembuangan air saja. Pemerintah Hindia Belanda menyebut situ aksan dengan nama Westerpark dan nama jalan ke Situ Aksan diberi nama Westerparkweg (sekarang Jl. Suryani). 

 Situ yang masih ada di Kota Bandung adalah Situ Emuh di Selatan Kolam Renang Karang Setra dan Situ Neglasari di Ciumbuleuit dengan luas situ yang sudah jauh mengecil.

Situ yang sekarang sudah tidak ada lagi adalah itu Bunjali di Selatan Kolam Renang Cihampelas. Nama Situ Bunjali berasal dari nama tumbuhan Jali yang dalam bahasa Sunda disebut Hanjeli, kaena disekeliling situ banyak ditumbuhi oleh tanaman tersebut. Di Lokasi Situ Bunjali sekarang sudah berdiri komplek perumahan.


Sumber:
BANDUNG Kilas Peristiwa di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah
Sudarsono Katam Kartodiwirio, Kiblat Buku Utama, 2006

Wednesday, August 15, 2012

Kata Serapan dari Bahasa Belanda : Nama Makanan

Banyak kata/bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari kata/bahasa Belanda. Tapi saya kan cerita beberapa saja yang banyak bersangkutan dengan makanan, mungkin Joyee yang nanti mau menambahkan ok !

Mas/kang/bang  beli sirup stroberi( biasanya orang indonesia bingung antara stroberi dan arbei ), jangan lupa beli es nya ya ! tanpa sadar kita mengucapkan kata serapan dari belanda, dalam bahasa Belanda es = ijs, sirup = stroop . Ada juga yang lain seperti alpukat(avocaat), sirsak(zuurzak),sardencis( sardientjes) yang merupakan kata kata yang biasa dipakai sehari hari, Mamat ! cepat ke pasar(passeur)
ada belanjaan ibu yang kurang, satu bungkus margarine(margarine), dan 2 butir kol(kool) buat bikin sop(soup) ! Eits tunggu mat, JANGAN LUPA kalo keluar pake SANDAL(sandalen) jangan bikin malu ibu ! xixixixi...
 Well, mungkin karena Bangsa Indonesia sudah sangat lama berinteraksi dengan orang Belanda ( saya mengatakan  berinteraksi bukan dijajah ) maka kata kata, bahasa, makanan, budaya  dan lain lainnya banyak yang bercampur. Tetapi, bahasa dan kebiasaan yang merupakan jendela kebudayaan suatu bangsa banyak terasa pengaruh nya seperti kebudayaan minum teh (thee) yang sakral bagi orang jepang dan china, lalu banyak diikuti oleh orang eropa, padahal orang Indonesia sudah melakukan konsumsi teh sejak berabad abad yang lalu dan telah menjadi minuman biasa saja.
 Di Bandung, yang sejak dulu merupakan daerah yang bisa dikatakan terbuka terhadap budaya asing banyak terlihat percampuran kultur nya, mulai dari bangunan bangunannya, makanan, dan lain lainnya. Ada perkedel Bondon yang alamatnya ada di tulisan saya sebelumnya( perkedel = frikadel ) yang merupakan makanan yang mudah diterima dan umum di sajikan, sering disajikan pada masakan soto bandung. Belum lagi bistik/bestik(biefstuk) yaitu masakan daging berkuah kecap agak manis yang disajikan bersama irisan kentang, wortel(wortel),buncis(boontjes) plus dengan saus tomat(tomaat) sebagai penambah cita rasa.
 Masih banyak lagi kuliner Bandung yang terpengaruh kultur Belanda, seperti kueSus(Soes),panekuk(pannenkoek,pancake=english ), sosibrod(saucijzenbrood), pastel(pastei) yang merupakan makanan yang biasa dijumpai di Bandung.Orang Belanda yang bercita rasa cheese/milk dalam pemilihan makanan, terlihat juga dalam selera kudapan dan masakan beberapa orang bandung(terutama di perkotaan). Kue kue seperi kue keju (kastangel) yang merupakan kue kering wajib pada hari raya lebaran, lidah kucing(kattentong,kat=kucing dan tong=lidah ) yang juga kue kue "resmi" hari raya yang hampir disetiap ruang tamu pada hari lebaran di sajikan berjejeran dalam topples(stoffles) bersama kaastangel dan kue nastar, nastar adalah sama sama kue "kumpeni" lokal yaitu kue kering berisi selai(gelei) nanas(ananas).
Ada juga kata kata lainnya seperti, sosis(soucijs), puding(pudding), koki(kokkin), kopi(koffie), permen(pepermunt), biskuit(biscuit), kue Tar(Taart).
Ada juga yang terserap kedalam bahasa daerah, Dawegan(Sunda) = Kelapa Muda, tetapi terserap karena salah tanggap bahasa. begini ceritanya, ada seorang Belanda yang memerintahkan kepada seseorang anak muda : " jongere, down again that coconut ", terdengar sayup sayup dari jauh oleh orang pribumi Sunda yang terdengar hanya 'down again' yang tersamarkan.. "ooo eta teh ngaranna dawegan ceuk walanda mah nya "(ooo itu namanya dawegan kata orang belanda sih ). Jadi kata kata dawegan sampai sekarang dipakai,, wakakakakakaka ( kebenaran cerita ini diragukan banget hehehe )

okee Joy,, enjoy your life  ,, "kuliner emang enak tapi lebih enak ": lekker eten zonder betalen alias gratisaaaan alias di traktir(trakteren) wakakakaka......


Friday, August 10, 2012

Sejarah Sumur Bandung

Sumur itu berada di salah satu lokasi tepat dibelakang tempat parkir gedung PLN Distribusi JawaBarat. Keberadaanya sangat terawat bahkan airnya sering diambil oleh masyarakat yang datang berkunjung ke sumur tersebut. Sumur tersbut diberi penutup mirip mahkota kaca dan dipagari oleh tali dari kain sehingga terkesan sangat dilindungi dan di hormati.

Ada sejarah yang beredar dan dipercayai oleh mayarakat umum tentang legenda sumur ini, konon ketika Raden Adipati Wiranatakusumah II menancapkan tongkatnya dan keluarlah air dari lubang tancapan tersebut. Karena air yang keluar cukup deras maka di galilah dan dibuatlah menjadi sebuah sumur. Bandung yang kala itu merupakan hutan belantara merupakan daerah yang menjadi alternatif pilihan oleh Raden Wiranatakusumah II untuk dijadikan ibukota karisidenan Priangan, yang kala itu ibu kota berkedudukan di Karapyak( sekarang dayeuh kolot ) yang sering dilanda banjir luapan sungai citarum( hingga sekarang ).


Dengan pertimbangan tersebut dan juga atas dasar keinginan Gubernur Jendral Daendels(Belanda) yang menginginkan adanya kota peristirahatan bagi para petinggi pemerintahan maka di pindahkanlah ibukota priangan itu dari Karapyak ke sebuah tempat dekat dengan sumber mata air itu keluar(sumur bandung), ditandai dengan membangun sebuah pendopo di sebelah Selatan Alun Alun sekarang. Maka dari situlah dihitung berdirinya Kota Bandung.
   
http://indonesia.travel

Friday, August 3, 2012

DANAU BANDUNG

Bandung kota dan sekitarnya, pada masa lampau merupakan danau yang dikenal dengan Danau Bandung. Keadaan yang sekarang terlihat merupakan pedataran yang biasa disebut dengan istilah “Cekungan Bandung” (Bandung Basin). Daerah sekitar cekungan tersebut, diperkirakan dahulu merupakan tepian danau sehingga banyak diperoleh sisa-sisa aktivitas manusia masa lampau (Koesoemadinata, 2001).

Van Bemmelen, 1935, meneliti sejarah geologi Bandung. Pengamatan dilakukan terhadap singkapan batuan dan bentuk morfologi dari gunung api-gunung api di sekitar Bandung. Penelitian yang dilakukan berhasil mengetahui bahwa danau Bandung terbentuk karena pembendungan Sungai Citarum purba. Pembendungan ini disebabkan oleh pengaliran debu gunung api masal dari letusan dasyat Gunung Tangkuban Parahu yang didahului oleh runtuhnya Gunung Sunda Purba di sebelah baratlaut Bandung dan pembentukan kaldera di mana di dalamnya Gunung Tangkuban Parahu tumbuh.



Van Bemmelen secara rinci menjelaskan, sejarah geologi Bandung dimulai pada zaman Miosen (sekitar 20 juta tahun yang lalu). Saat itu daerah Bandung utara merupakan laut, terbukti dengan banyaknya fosil koral yang membentuk terumbu karang sepanjang punggungan bukit Rajamandala. Kondisi sekarang, terumbu tersebut menjadi batukapur dan ditambang sebagai marmer yang berpolakan fauna purba.

Bukit pegunungan api diyakini masih berada di daerah sekitar Pegunungan Selatan Jawa. Sekitar 14 juta sampai 2 juta tahun yang lalu, laut diangkat secara tektonik dan menjadi daerah pegunungan yang kemudian 4 juta tahun yang lalu dilanda dengan aktivitas gunung api yang menghasilkan bukit-bukit yang menjurus utara selatan antara Bandung dan Cimahi, antara lain Pasir Selacau. Pada 2 juta tahun yang lalu aktivitas volkanik ini bergeser ke utara dan membentuk gunung api purba yang dinamai Gunung Sunda, yang diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 3000 m di atas permukaaan air laut. Sisa gunung purba raksasa ini sekarang adalah punggung bukit.

Sekitar Situ Lembang (salah satu kerucut sampingan sekarang disebut Gunung Sunda) dan Gunung Burangrang diyakini sebagai salah satu kerucut sampingan dari Gunung Sunda Purba ini. Sisa lain dari lereng Gunung Sunda Purba ini terdapat di sebelah utara Bandung, khususnya sebelah timur Sungai Cikapundung sampai Gunung Malangyang, yang oleh van Bemmelen (1935, 1949) disebut sebagai Blok Pulasari. Pada lereng ini terutama ditemukan situs-situs artefak ini, yang diteliti lebih lanjut oleh Rothpletz pada zaman Jepang dan pendudukan Belanda di Masa Perang Kemerdekaaan. Sisa lain dari Gunung Sunda Purba ini adalah Bukit Putri di sebelah timur laut Lembang (Koesoemadinata, 2001).


Gunung Sunda Purba itu kemudian runtuh, dan membentuk suatu kaldera (kawah besar yang berukuran 5-10 km) yang ditengahnya lahir Gunung Tangkuban Parahu, yang disebutnya dari Erupsi A dari Tangkuban Parahu, bersamaan pula dengan terjadinya patahan Lembang sampai Gunung Malangyang, dan memisahkan dataran tinggi Lembang dari dataran tinggi Bandung. Kejadian ini diperkirakan van Bemmelen (1949) terjadi sekitar 11.000 tahun yang lalu.

Suatu erupsi cataclysmic kedua terjadi sekitar 6000 tahun yang lalu berupa suatu banjir abu panas yang melanda bagian utara Bandung (lereng Gunung Sunda Purba) sebelah barat Sungai Cikapundung samapai sekitar Padalarang di mana Sungai Citarum Purba mengalir ke luar dataran tinggi Bandung. Banjir abu volkanik ini menyebabkan terbendungnya Sungai Citarum Purba, dan terbentuklah Danau Bandung.

Tahun 90-an, Dam dan Suparan (1992) dari Direktorat Tata Lingkungan Departemen Pertambangan mengungkapkan sejarah geologi dataran tinggi Bandung. Penelitian ini menggunakan teknologi canggih seperti metoda penanggalan pentarikhan radiometri dengan isotop C-14 dan metode U/Th disequilibirum. Dam melakukan pengamatan terhadap perlapisan endapan sedimen Danau Bandung dari 2 lubang bor masing-masing sedalam 60 m di Bojongsoang dan sedalam 104 m di Sukamanah; melakukan pentarikhan dengan metoda isotop C-14 dan 1 metoda U/Th disequilibirum; dan pengamatan singkap dan bentuk morfologi di sekitar Bandung. Berbeda dengan Sunardi (1997) yang mendasarkan penelitiannnya atas pengamatan paleomagnetisme dan pentarikhan radiometri dengan metode K-Ar.

Simpulan penting adalah bahwa pentarikhan kejadian-kejadian ini jauh lebih tua daripada diperkirakan oleh van Bemmelen (1949), kecuali periode pembentukan Gunung Sunda Purba serta kejadian-kejadian sebelumnya. Keberadaan danau purba Bandung dapat dipastikan, bahkan turun naiknya muka air danau, pergantian iklim serta jenis floranya dapat direkam lebih baik (van der Krass dan Dam, 1994).

Hasil yang diperoleh, pembentukan danau Bandung bukan disebabkan oleh suatu peristiwa ledakan Gunung Sunda atau Tangkuban Parahu, tetapi mungkin karena penurunan tektonik dan peristiwa denudasi dan terjadi pada 125 KA (kilo-annum/ribu tahun) yang lalu (Dam et al, 1996).

Keberadaan Gunung Sunda Purba dipastikan antara 2 juta sampai 100 juta tahun yang lalu berdasarkan pentarikhan batuan beku aliran lava, antara lain di Batunyusun timur laut Dago Pakar di Pulasari Schol (1200 juta tahun), Batugantung Lembang 506 kA (ribu tahun) dan di Maribaya (182 dan 222 kA). Memang suatu erupsi besar kataklismik (cataclysmic) terjadi pada 105 ribu tahun yang lalu, berupa erupsi Plinian yang menghasilkan aliran besar dari debu panas yang melanda bagian baratlaut Bandung dan membentuk penghalang topografi yang baru di Padalarang, yang mempertajam pembentukan danau Bandung. Erupsi besar ini diikuti dengan pembentukan kaldera atau runtuhnya Gunung Sunda yang diikuti lahirnya Gunung Tangkuban Parahu beberapa ratus atau ribu kemudian, yang menghasilkan aliran lava di Curug Panganten 62 ribu tahun yang lalu, sedangkan sedimentasi di danau Bandung berjalan terus.

Suatu ledakan gunung api cataclysmic kedua terjadi anatara 55 dan 50 ribu tahun yang lalu, juga berupa erupsi Plinian dan melanda Bandung barat laut, sedangkan aliran-aliran lava di Curug Dago dan Kasomalang (Subang), terjadi masing-masing 41 dan 39 ribu tahun yang lalu. Sementara itu, sedimentasi di Danau Bandung berjalan terus, antara lain pembentukan suatu kipas delta purba yang kini ditempati oleh Kota Bandung pada permukaan danau tertinggi. Akhir dari Danau Bandung pun dapat ditentukan pentarikhannya yaitu 16 ribu tahun yang lalu.  

( BandungHoek by JoyRider )

Wednesday, August 1, 2012

Sejarah Berdirinya Kota BANDUNG

Saya mencoba merangkum tulisan ini dari berbagai sumber baik cetak maupun internet. Perlu saya sampaikan bahwa  tulisan ini sekedar untuk menambah wawasan khususnya bagi pemula yang ingin mengetahui sepintas sejarah berdirinya Kota Bandung. Asal kata ”bandung” ada yang berpendapat berasal dari kata ”bandeng”. Dalam Bahasa Sunda, ngabandeng berarti genangan air yang luas dan nampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Dari kata bandeng ini berubah bunyi menjadi "bandung”.                                                    
Asal kata bandung ini nampaknya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen ( + 60.000 tahun ? yang lalu). Akibatnya daerah antara Padalarang sampai Cicalengka sepanjang + 30 Km, dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu sampai Soreang  + 50 Km terendam air menjadi danau besar yang kemudian disebut Danau Bandung Purba.  Menurut penelitian arkeologi danau ini mulai surut secara beangsur-angsur pada masa neolitikum + 8000 – 7000 SM.

Secara historis, nama Bandung mulai dikenal sejak berdirinya pemerintahan Kabupaten Bandung sekitar abad ke 17. Sebelum Kabupaten Bandung berdiri wilayah ini disebut ”Tatar Ukur” yang wilayahnya mencakup sebagian besar Jawa Barat di bawah dominasi kerajaan Pajajaran.  Sekitar Tahun 1579/1580 Kerajaan Sunda Pajajaran runtuh akibat gerakan pasukan Banten dalam usaha menyebarkan Islam di daerah Jawa Barat. Setelah Pajajaran runtuh maka Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedang Larang yang diperintah oleh Prabu Geusan Ulun (1580-1608).

Tahun 1620 Kerajaan Sumedang Larang menjadi wilayah kekuasaan Mataram di bawah Sultan Agung.  Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur ( Bupati Wedana Priangan) untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Dipati Ukur gagal melaksanakan tugas ini dan akhirnya ia melakukan pemberontakan terhadap Sultan Agung.
Tahun 1632 Sultan Agung dapat memadamkan pemberontakan Dipati Ukur setelah mendapat bantuan dari 3 orang dari Priangan.  Atas jasa-jasanya turut menumpas pemberontakan Dipati Ukur maka ketiga orang tersebut  oleh Sultan Agung diangkat menjadi Kepala Daerah, yaitu: Ki Astamanggala diangkat menjadi Bupati Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Tanubaya menjadi Bupati Parakanmuncang, dan Ngabehi Wirawangsa menjadi Bupati Sukapura. Ketiga orang ini dilantik berdasarkan Piagam Sultan Agung pada ping songo tahun Alif bulan Muharan  atau  bertepatan dengan hari Sabtu tanggal 20 April Tahun 1641.

Kabupaten Bandung berada di bawah pengaruh Mataram sampai akhir tahun 1677 karena setelah itu Bandung dibawah kekuasaan Kompeni Belanda (1677 – 1799). Hingga berakhirnya kekuasaan Kompeni-VOC tahun 1799 , Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (Dayeuh Kolot).  Setelah kekuasaan Kompeni berakhir, kekuasaan di Nusantara diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Gubernur Jendralnya yang pertama yaitu  Herman Willem Daendels (1808-1811).
Menurut naskah Sajarah Bandung, pada tahun 1809 Bupati Bandung Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Karapyak (Dayeuh Kolot) ke daerah sebelah utara Kota Bandung.  Salah satu alasan kepindahannya yaitu wilayah Karapyak sering dilanda banjir Citarum. Semula Bupati tinggal

di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir. Ketika Daendels meresmikan pembangunan jembatan Cikapundung di Jl. Asia afrika sekarang, Bupati Bandungpun berada di sana. Daendels beserta Bupati berjalan ke arah timur sampai disuatu tempat (depan kantor Dinas P.U Jl. AA sekarang). Di tempat itu Daendels menancapkan tongkatnya sambil berkata:”Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun ). Sebagai tindak lanjut ucapannya Daendels mengeluarkan surat tertanggal 25 Mei 1810 yang isinya memerintahkan Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten masing-masing ke dekat Jalan Raya Pos.
Pindahnya Kabupaten Bandung ke Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit (SK) tanggal 25 September 1810. Maka tanggal ini secara yuridis formal ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.
Tahun 1906 kota Bandung sebagai ibukota Kabupaten Bandung berubah statusnya menjadi Gemeente (kotapraja) yang berpemerintahan otonom.

Maka sejak itu pemerintahan Kabupaten Bandung terpisah dengan pemerintahan Gemeente Bandung (Kotapraja Bandung). Ketetapan itu semakin memperkuat fungsi Kota bandung sebagai pusat pemerintahan, terutama pemerintahan kolonial Belanda di Kota Bandung. Semula Gemeente Bandung dipimpin oleh Asisten Residen Priangan selaku Ketua Dewan Kota, tetapi sejak tahun 1933 Gemeente dipimpin oleh burgemeester (walikota). Menurut berbagai sumber pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat dibawah pimpinan Bupati R.A Wiranatakusumah II. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa Bupati R.A Wiranatakusumah II adalah pendiri ( the founding father) Kota Bandung.           


 Berikut adalah orang-orang yang pernah menjabat Bupati Bandung :
  1. Tumenggung Wiraangunangun (1641 – 1681 ) :  angkatan Mataram.
  2. Tumenggung Nyili (1681), tidak lama karena  mengikuti  Sultan Banten.
  3. Tumenggung Ardikusumah      (1681 – 1704)  :  angkatan Kompeni.
  4.  Tumenggung Anggadireja I    (1704 – 1747)
  5.  Tumenggung Anggadireja II   (1747_1763)
  6. R. Anggadireja III dengan gelar R.A Wiranatakusumah I (1763 – 1794)
  7.  R.A Wiranatakusumah II ( 1794 – 1829) :  kolonial  Belanda.
  8.   8. R.A Wiranatakusumah III ( 1829 – 1846 )
  9.  R.A Wiranatakusumah IV      ( 1846 – 1874 )
  10.  R. Adipati Kusumahdilaga     ( 1874 - 1893 )
  11. RAA. Martanegara                 ( 1893–1918 )
Gemente ( Kotapraja) Bandung
  1. E.A Maurenbrecher (exofficio)      (1906 – 1907)
  2.  R.E Krijboom (exofficio)              (1907 – 1908)
  3.  J.A. Van Der Ent (exofficio)          (1909 – 1910)
  4.  J.J. Verwijk (ecofficio)                  (1910 – 1912)
  5.  C.C.B Van Vlenier dan                 (1912 – 1913)
  6.  B.Van  Bijveld (exofficio)              (1913 – 1920)
  7.  B. Coops                                       (1920 – 1921)
  8.  S.A Reitsma                                   (1921 – 1928)
  9.  B. Coops                                       (1928 – 1934)
  10.  Ir. J.E.A. Van Volsogen Kuhr          (1934 – 1936)
  11.  Mr. J.M. Wesselink                        (1936 – 1942)
  12.  N. Beets                                         (1942 – 1945)
  13.  R.A Atmadinata                              (1945 – 1946)
  14.  R. Siamsurizal
  15.  Ir. Ukar Bratakusumah                    (1946 – 1949)
  16.  R. Enoch                                         (1949 – 1956)
  17. R. Priatna Kusumah                          (1956 – 1966)
  18. R. Didi Jukardi                                 (1966 – 1968)
  19. Hidayat Sukarmadijaya                     (1968 – 1971)
  20. R. Otje Djundjunan                           (1971 – 1976)
  21.  H. Ucu Junaedi                                 (1976 – 1978)
  22.  R. Husein Wangsaatmaja                  (1978 – 1983)
  23.  H. Ateng Wahyudi                            (1983 – 1993)
  24.  Wahyu Hamijaya                              (1993 – 1998)
  25.  Aa Tarmana                                      (1998 – 2003)
  26. H. Dada Rosada                               (2003 – sekarang)